Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Desember 2019

Syair Imam Syahid Hasan Al-Banna


Suara jeritan ini;
yang berkumandang dari relung tragedi kemanusiaan
yang getir dan memilukan;
yang lahir dari rahim kegelapan zaman ini,
di arus kehidupan yang memancar dari teriakan prihatin seluruh alam;
yang dibawa oleh gelombang lembut menyelusup ke berbagai penjuru kehidupan;
yang dapat mematikan secara mengejutkan
segala impian,janji-janji, dan fenomena yang menipu serta penuh kepalsuan;
Mendorong kita untuk terjun dengan dakwah ini…
Dakwah yang tenang, namun lebih gemuruh
dari tiupan angin topan yang menderu…
Dakwah yang rendah hati, namun lebih perkasa dari keangkuhan gunung yang menjulang…
Dakwah yang terbatas, namun jangkauannya lebih luas dari belahan bumi seluruhnya…
Ia sepi dari prilaku yang menipu,
dan gemerlap yang penuh dusta.
Sebaliknya, ia dikemas oleh keagungan hakikat,
keindahan wahyu, dan pemeliharaan Allah.

Senin, 09 Desember 2019

3 Tahapan Ilmu


Menuntut ilmu itu wajib bagi seluruh Muslim tidak terkecuali. Menuntut ilmu adalah ibadah dan banyak keutamaannya bagi yang melakukan. Orang orang berilmu dapat dilihat tanda tandanya untuk mengukur tahapannya sudah sampai dimana.

Ada 3 tahapan dalam menuntut ilmu dari Umar Bin Khattab :

“Ilmu ada tiga tahapan. Jika seorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua ia akan tawadhu’. Dan jika ia memasuki tahapan ketiga ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya”

Tahap pertama

Tahap pertama kala belajar agama biasanya muncul perasaan sudah paling baik dan orang yang tidak mendapat ilmu seperti dirinya adalah yang paling rendah.

Padahal yang di pelajari itu masih kulitnya, namun itu sudah membuat dirinya  bangga dan takjub  akan kebenaran ilmu itu dan menjadikan apa yang di pelajari itu adalah yang paling benar dan akhirnya sombong menghinggapi pikiran dirinya.

Seharusnya seorang itu sadar, karena  kala diselimuti kesombongan itulah dirinya sudah tertipu dan tidak lagi menemukan esensi dari ilmu itu karena menolak kebenaran dan merendahkan manusia seperti Sabda Nabi Saw

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim]

Tahap kedua

Pada Fase ini dikala seseorang semakin belajar dan semakin mendalami dia mulai memahami ternyata ilmu Allah itu maha luas, mulai menyadarkan diri bahwa tanpa bantuan Allah sangat sulit ilmu yg haq melekat di hati.

Pada tahapan ini, muncul kesadaran bahwa ilmu dapat terserap karena karunia Allah semata dan dalam melihat orang lain dia juga menyadari bahwa Allah memberi kemudahan atas seseorang dengan yang lainnya untuk mendapatkan ilmuNya kepada yang di kehendakiNya.

Dalam kaitan ini dia sudah memahami hakekat ilmu itu sendiri dan sudah mulai rendah hati mau menerima kebenaran dari siapapun. Dengan ilmunya dia berusaha memahami hakekat dirinya dan menjadikan ilmu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Kepada orang lain sebagai sesama makhluk Allah, walau dia tinggi ilmunya akan secara santun dihadapinya tanpa berusaha merendahkannya seperti pada fase pertama.

Dia sadar semakin dirinya rendah hati dan fakir, maka kemuliaan  akan menyertainya. Bila sudah rendah hati dia kan sadar dan bijaksana dalam berhadapan kepada siapapun dan dia menjadi figur yang di cintai sesama dan Allah.

Tahap ketiga

Pada tahapan ketiga ini seperti pada tahapan kedua sudah tidak ada kesombongan dan dirinya semakin haus untuk menimba ilmu dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk dapat mengenal memahami dan meresapi ayat ayat Allah.

Sementara orang berilmu yang ke tiga akan menjadikan dirinya menjadi tidak tahu apa-apa, dirinya merasa bodoh. Dirinya tiada puas dalam menuntut ilmu, semakin digali ilmuNya maka semakin nampaklah kebodohan dirinya dihadapan Allah SWT.

Orang yang berilmu yang ketiga, dia menyadari ilmu yang diberikan adalah hanya setetes dari lautan samudera. Walaupun setetes dia sudah sangat bersyukur karena dapat merasakan buah atau makrifat / kelezatan ilmuNya. Bagaimana ilmu Allah itu? Keluasan Ilmu Allah adalah seperti diuraikan dalam Al Quran sebagai berikut :

Firman Allah : Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Luqman : 27)

Satu hal yang penting, tahapan ini sudah pada aplikasi dalam keseharian menjadikan dirinya tawadhu dan pantang merendahkan orang lain.

Lebih penting lagi  dia sudah dapat menikmati atau kelezatan dari ketawaduan dalam berilmu, arena tawadu itu adalah buah dari ilmu. Tandanya makin tinggi ilmunya maka makin baik akhlaqnya

Dan Allah menjanjikan orang berilmu pada tahap ini akan ditinggikan beberapa derajat baik ketika di dunia maupun di akhirat.

Allah berfirman:

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah : 11)

Lalu pertanyaannya sudah sampai di tahap manakah ilmu kita?

Wallahu a’lam

Sebesar Apapun Dosa Manusia, Ampunan Allah SWT Jauh lebih Besar!



Diwayatkan bahwa pada zaman Rasulullah Saw, Umar Ibnu Khattab salah seorang sahabat terdekat Rasulullah Saw menangis didepan pintu salah seorang isteri Rasulullah Saw, yang didalamnya ada Rasulullah Saw. Mendengar suara Umar Ibnu Khattab berada diluar, maka Rasulullah Saw segera keluar dan bertanya kepada Umar Ibnu Khattab, “Hai Umar kenapa engkau menangis?”

Kemudian Umar menjawab: “Wahai Rasulullah, bersamaku ada seorang pemuda yang telah membuat hatiku sedih dengan tangisnya.”

Lalu Rasulullah Saw memerintahkan Umar agar membawa masuk anak muda tersebut ke dalam. Atas perintah tersebut Umar Ibnu Khattab lalu mengajak pemuda yang datang bersamanya sambil keduanya tetap menangis.

Pemuda itu disuruh duduk di depan Rasulullah Saw, dan Umar Ibnu Khattab duduk disebelahnya.

Rasulullah Saw kemudian bertanya: “Hai pemuda, kenapa engkau menangis?”

Pemuda itu menjawab sambil tetap menangis: “Wahai Rasulullah, dosaku sangat besar dan aku takut Allah memurkaiku…”

“Apakah engkau telah menyekutukan Allah dengan sesuatu?” tanya beliau.
“Tidak, ya Rasul,” sahut pemuda itu sambil tetap menangis.

“Apakah engkau telah membunuh seseorang dengan alasan yang tidak benar?” Rasulullah Saw kembali bertanya.
“Tidak ya Rasul,” sahut pemuda itu sambil terus menangis.

Lalu Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh, dosamu sebesar apapun, Allah akan mengampuninya, sekalipun memenuhi langit dan bumi.”

“Sungguh dosaku lebih besar dari itu, ya Rasul,” sahut pemuda itu.
“Apakah besar dosamu melebihi ‘arsy? Besar mana dengan ‘arsy?” tanya beliau lagi.

“Dosaku sangat besar, ya Rasulullah.”
“Lalu besar mana dosamu dengann keagungan, ampunan, dan rahmat Allah?” tanya Rasulullah Saw.

“Tentu keagungan, ampunan, dan rahmat Allah lebih besar. Tetapi dosaku sangat besar, ya Rasulullah” jawabnya diantara isak tangis.

Karena kurang mengerti maksud pengakuan dari pemuda itu, akhirnya Rasulullah Saw mendesaknya, “Coba katakan dosa apa yang pernah kau perbuat?”

“Aku malu menyebutnya, ya Rasulullah…” kata si pemuda itu.

Karena Rasulullah Saw. terus mendesak pemuda itu untuk mengatakan dosanya secara jujur. Maka dengan perasaan malu dan takut, pemuda itupun menceritakan dosa yang dilakukannya.

“Wahai Rasulullah, aku ini seorang penggali kubur, sejak tujuh tahun lalu. Hingga meinggalnya putri dari seorang sahabat anshar.

Melihat kecantikan dan kemontokan tubuhnya, nafsu birahiku memuncak. Setelah kuburan sepi, kubongkar kuburnya dan kutelanjangi mayat gadis itu.

Setelah kucumbui, nafsu birahiku tak dapat kutahan, lalu kusetubuhi. Ketika itu mayat gadis itu berkata, “Tidakkah kau malu kepada Allah, pada hari Allah mengkukumi orang-orang berbuat zalim, sementara engkau menelanjangiku dan menyetubuhiku diantara orang-orang yang telah mati.

Engkau membuatku dalam keadaan junub dihadapan Allah!”

Mendengar pengakuan dari si pemuda itu, Rasulullah Saw segera bangkit berdiri dan meninggalkannya, seraya berseru: “Hai pemuda fasik, pergilah! Jangan engkau dekati aku! Nerakalah tempatmu kelak!”

Pemuda itu pun segera keluar meninggalkan rumah Rasulullah Saw, seraya menangis. Ia berjalan dengan arah tak menentu keluar kampung. Sampailah ia di padang pasir yang luas lagi panas. Tujuh hari lamanya ia tidak makan dan minum karena penyesalan dan kesedihan yang sangat mendalam hingga lemahlah keadaan tubuhnya tak kuasa lagi berjalan, lalu kemudian jatuh tersungkur ditempat itu. Diatas pasir ia bersujud kepada Allah, lalu berdoa dan memohon ampunan-Nya dalam tangisnya.

“Ya Allah, aku adalah hamba-Mu yang telah berbuat dosa besar. Sekarang aku datang ke pintu-Mu, agar Engkau berkenan menjadi penolongku disisi kekasih-Mu. Sungguh Engkau Maha Pemurah kepada hamba-hambaMu dan tiada tersisa harapanku kecuali kepada-Mu. Ya Allah, Tuhanku sudilah menerima kehadiranku, kalau tidak datangkanlah api-Mu dari sisi-Mu, dan bakarlah tubuhku dengan api-Mu didunia ini, daripada Kau bakar tubuhku diakhirat nanti.”

Setelah itu Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah Saw. Usai menyampaikan salam dari Allah, Jibril berkata: “Wahai Muhammad, Allah Subhanu Wata’ala bertanya kepadamu, “Apakah engkau telah menjadikan hamba-hamba-Nya?”
“Bahkan Dialah yang menciptakan diriku dan mereka,” jawab Rasulullah Saw .
“Apakah engkau memberi rezeki kepada mereka?”

Rasulullah Saw menjawab: “Bahkan Dia memberi rezeki padaku dan mereka.”
“Apakah engkau menerima taubat mereka?”
“Bahkan Dia yang berhak menerima taubat dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya” ujar Rasulullah Saw.
Jibril lalu berkata: Allah berfirman kepadamu; “Aku telah mengirim kepadamu seorang hamba-Ku yang menyatakan perbuatan dosanya, lalu engkau marah dan berpaling darinya akibat dosa yang pernah diperbuat, maka bagaimana keadaan orang-orang yang berdosa kelak, ketika membawa dosa sebesar gunung? Engkau adalah Rasul-Ku, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Setelah menerima pesan yang disampaikan Jibril dari Allah, yang intinya bahwa Allah menerima taubatnya pemuda tadi, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam segera mengutus beberapa orang sahabat untuk mencari dan menyusul pemuda tadi. Setelah dicari diberbagai tempat, ternyata ia ditemukan dalam keadaan sujud dipadang pasir.

Tubuhnya lemas. Lalu dikabarkan kepadanya bahwa Allah telah mengampuni dosanya.

Akhirnya pemuda itu dibawa pulang dan dirawat seperlunya. Pada waktu sholat magrib ia sudah bermakmum dibelakang Rasulullah Saw. Ia kemudian memperbaiki sisa-sisa hidupnya dengan amal-amal shalih dan tekun beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

(Disalin dari Kisah-Kisah Penuh Hikmah, Ibnu Mahalli Abdullah Umar & Ahmad Suhaimy)